Senin, 09 September 2019

Bukit Bongku Nanga Mahap


Bismillahirrahmanirrahim.

   Namaku Cahya Heru Saputra. Pemuda kelahiran 2001. Kedua orang tuaku adalah orang Jawa, tapi Aku lahir dan besar di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Aku merasa bangga dilahirkan dan dibesarkan disini. Kenapa?  Karena pulau Kalimantan merupakan paru-paru dunia. Pulau Kalimantan memang tidak memiliki gunung, berbeda dengan di Jawa. Namun, di Kalimantan terdapat bukit yang tak kalah indah untuk dikunjungi khususnya Kalimantan Barat.

    Singkat cerita waktu Aku duduk dikelas 2 SMA, salah seorang temanku mengajakku untuk mendaki salah satu bukit yang ada di Kabupaten Sekadau tepatnya di Nanga Mahap yaitu Bukit Bongku. Tanpa pikir panjang Aku pun menerima ajakan itu. Efek sering menonton video Dzawin Nur dan Fiersa Besari jadi semangat untuk mendaki, meskipun hanya bukit hehe.  Setelah mendapat izin dari orangtua, Kami berenam Aku, Syahrul, Yono, Ajip, Dafa dan Ijal berangkat dari Sanggau menggunakan sepeda motor. Kami berangkat pada hari Sabtu, 17 Februari 2018 selepas Dzuhur.

    Sekitar 1,5 jam Kami sampai di Kabupaten Sekadau, Kami pun singgah untuk membeli perlengkapan untuk mendaki seperti, mie instan, air mineral dan beberapa cemilan. Setelah persiapan lengkap Kami pun melanjutkan perjalanan untuk menuju Nanga Mahap. Kurang lebih 3 jam (belum dihitung istirahat)  Kami tiba di kampungnya. Namun sial nya temanku yang mengajak mendaki ini ternyata belum tau jalan kearah bukit nya. Kami pun mencoba bertanya kepada salah seorang anak kecil. Akhirnya kami memutuskan untuk meminta tolong kepada anak tersebut untuk mengantarkan kami ke tempat tujuan dan anak tersebut pun mau mengantarkan kami.

   Ternyata jalur menuju bukit bisa dilalui menggunakan motor, namun jalannya yg cukup terjal mengharuskan Kami untuk ekstra hati-hati. Setelah beberapa menit Kami sampai di titik akhir yang mana jalurnya hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Kami pun mengucapkan terimakasih dan memberinya uang, yah hitung-hitung untuk membeli bensin.

    Jalur pendakian tidak begitu jauh. Hanya saja jalur nya begitu terjal. Kami yang bisa dikatakan pendaki amatir yang begitu semangat untuk pertama kalinya mendaki seolah-olah memandang jalur yang begitu terjal seperti seluncuran anak PAUD haha. Sekitar 15 menit mendaki Kami pun sampai di puncak bukit. Kami kira Kami lah pendaki pertama, ternyata sudah ada pendaki gabungan dari Sekadau dan Sintang yang sudah mendirikan tenda. Kami pun bergegas mendirikan tenda, sholat dan bersih - bersih badan (wudhu)  dan membuat api untuk memasak.

   

Makan, bercerita, berkenalan dengan pendaki lain, jauh dari ingar bingar kota,  tidak sibuk dengan gadget masing-masing, sungguh pengalaman yang sangat indah. Suara alam yang menemani malam Kami seolah-olah mengatakan "Beristirahat lah jiwa - jiwa yang lelah" Haha.

    Pagi tiba, Kami bangun untuk sholat subuh. Lagi-lagi Kami tidak beruntung. Cuaca berkabut, Kami tidak dapat melihat Sunrise. Akhirnya Kami hanya berfoto dengan bukit yang berkabut haha. Sekitar pukul 09.00 WIB Kami packing dan turun untuk pulang menuju tempat yang paling nyaman, rumah.

 

Semoga terhibur dengan pengalaman Saya. Terimakasih sudah membaca. Kalo kata Dzawin Nur "markicabs" Hehe.